Orang tua narsistik sering tidak memiliki kualitas penting untuk menjadi orang tua yang sehat, seperti kesadaran diri, belas kasih, kesabaran, dan empati.
Sebagai psikolog yang meneliti narsisme, saya menemukan bahwa anak-anak dari orang tua narsistik sering tumbuh menjadi dewasa yang bergumul dengan menyalahkan diri sendiri, meragukan diri sendiri, dan perasaan bahwa diri mereka “tidak pernah cukup”.
Tidak semua orang tua yang sangat narsistik berperilaku sama, tetapi ada sejumlah pola yang hampir selalu muncul. Berikut enam sifat beracun yang mereka miliki:
1. Mendukung di depan umum, mengkritik habis-habisan secara pribadi
Mereka bisa saja terlihat sangat suportif di depan orang lain—misalnya, bersorak paling keras saat anak bermain sepak bola. Tapi di dalam mobil atau di rumah, mereka akan mengkritik atau merendahkan anak:
“Kenapa nggak usaha lebih keras? Harusnya kamu bisa cetak dua gol lagi!”
Anak bisa merasa bersalah karena punya perasaan negatif terhadap orang tuanya, sebab di mata orang lain mereka seperti “orang tua teladan”.
2. Menciptakan suasana penuh ketidakpercayaan
Untuk mendapatkan lebih banyak kuasa dalam keluarga, orang tua narsistik sering membagikan gosip kepada anak (misalnya,
“Jangan bilang kakakmu, ya. Tapi Mama dengar sepupumu ketahuan nyuri uang.”)
Hal ini menumbuhkan suasana “kita versus mereka”.
Satu anak bisa merasa istimewa karena mendapat “rahasia” yang tidak diberitahukan ke saudara yang lain. Ini menciptakan pola tidak sehat: menerima gosip dan bisik-bisik dianggap sebagai tanda kasih sayang dan persetujuan orang tua.
3. Memperlakukan saudara kandung secara berbeda (favoritisme)
Orang tua narsistik suka membuat “anak emas”. Jika mereka mengagungkan prestasi akademik, misalnya, mereka mungkin mengabaikan anak yang kesulitan di sekolah dan hanya memuji yang nilainya selalu A.
Hal ini bisa merusak hubungan antar saudara dan membuat mereka terus bersaing demi mendapatkan perhatian dan waktu orang tua.
4. Melihat anak sebagai perpanjangan dari dirinya
Jika anak melakukan apa yang diinginkan orang tua, anak akan dipuji dan dianggap berharga. Jika tidak, anak bisa diabaikan atau dikritik.
Banyak anak, demi mendapatkan cinta dari orang tua narsistik, akhirnya mengorbankan bagian dari dirinya sendiri—minat, hobi, bahkan kepribadian—untuk masuk dalam “cetakan” yang diinginkan orang tua.
5. Mengharapkan anak selalu mencerminkan emosi mereka
Dalam pola asuh yang sehat, orang tua yang justru mencerminkan emosi anak, karena mereka peka pada perasaan anak. Saat melihat anak sedih, mereka menyesuaikan nada bicara dan bertanya bagaimana perasaan anak.
Namun bagi orang tua narsistik, jika suasana hati anak tidak sejalan dengan mereka (misalnya anak sedih saat orang tua sedang senang), anak bisa dianggap tidak loyal. Lama-kelamaan, anak bisa berhenti mempercayai emosinya sendiri.
6. Mempermalukan anak karena punya kebutuhan dan keinginan
Orang tua narsistik sering mengabaikan harapan, keinginan, dan keyakinan anak.
Mereka mungkin melontarkan komentar yang menjatuhkan, seperti:
“Kamu sebenarnya nggak benar-benar mau ikut kegiatan itu, kan?”
atau
“Memangnya kenapa kamu pikir kamu akan bagus di situ?”
Hal ini membuat anak merasa kebutuhannya salah, berlebihan, atau tidak penting.
Cara Menghadapi Orang Tua Narsistik
Jika Anda adalah orang dewasa yang dipercaya anak (guru, tante, om, konselor, dll.):
Beri anak perhatian dan ajak bicara tentang hal-hal yang mereka minati.
Ciptakan ruang aman bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan tanpa dihakimi atau dipermalukan.
Tegaskan bahwa mereka berharga sebagai diri mereka seutuhnya, bukan hanya sejauh mereka memenuhi kebutuhan orang lain.
Jika Anda adalah anak dari orang tua narsistik (sekarang sudah dewasa):
Memiliki orang tua narsistik bisa menimbulkan kecemasan, perasaan tidak pernah cukup, dan lemahnya rasa jati diri. Ini bisa menakutkan, terutama ketika Anda mulai punya anak sendiri dan khawatir akan mengulang pola yang sama.
Namun banyak anak dewasa dari orang tua narsistik justru memiliki empati yang besar dan sangat ingin melakukan yang terbaik bagi anak-anak mereka sendiri.
Tunjukkan empati pada anak Anda, dan berusahalah hadir secara emosional.
Tunjukkan belas kasih, kebaikan, dan rasa hormat saat Anda berinteraksi dengan orang dewasa lain juga—anak mengamati apa yang mereka lihat, bukan hanya apa yang mereka dengar.