Dalam Rangka 66 Tahun HIMPSI dan Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025

Untuk menandai ulang tahun ke-66 HIMPSI (Himpunan Psikologi Indonesia) dan memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2025, HIMPSI bekerja sama dengan Dex-Wellness menyelenggarakan sebuah webinar reflektif dan edukatif tentang isu yang sangat penting: fatherlessness — ketiadaan atau minimnya peran ayah dalam kehidupan seorang anak.

Acara ini menghadirkan David Wongso, Psikolog, MM, MBA, M.Min, Founder Dex-Wellness dan penulis buku best-seller “Tanpa Ayah Tanpa Arah”, sebagai pembicara utama. Webinar juga akan dihadiri oleh Ketua Pengurus Pusat HIMPSI Prof. Henndy Ginting dan Brigjen (Purn.) Dr. Arief Budiarto.


Mengapa Kehadiran Ayah Itu Penting?

Psikologi perkembangan menegaskan bahwa ayah memiliki pengaruh yang unik dan tak tergantikan dalam membentuk fondasi kepribadian anak:

  • Kognitif:
    Ayah yang terlibat mendukung perkembangan bahasa, logika, dan kemampuan memecahkan masalah. Berbagai studi menunjukkan bahwa anak dengan ayah yang aktif cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik.

  • Emosional:
    Ayah yang hadir memberikan rasa aman, membantu anak mengatur emosi, dan membangun rasa percaya diri.

  • Sosial:
    Interaksi dengan ayah melatih keterampilan sosial, empati, dan kerja sama, sekaligus menurunkan risiko agresivitas dan kenakalan.

  • Spiritual:
    Ayah menjadi teladan nilai, moral, dan makna hidup—membantu anak memiliki fondasi spiritual yang kuat untuk menghadapi berbagai tantangan zaman.


Fatherlessness dan Masalah Sosial

Ketiadaan figur ayah dikaitkan dengan meningkatnya risiko kenakalan remaja, adiksi, kehamilan dini, putus sekolah, perilaku kriminal, dan gangguan kesehatan mental. Dengan memperkuat pilar keluarga—khususnya melalui keterlibatan aktif seorang ayah—banyak masalah sosial dapat dicegah sejak dini.

Seperti ditekankan Erik Erikson, anak yang mendapatkan dukungan utuh di setiap tahap perkembangan akan membentuk identitas yang kuat, bukan jatuh pada kebingungan dan krisis identitas.


Belajar dari Negara Lain

  • Skandinavia:
    Menyediakan cuti orang tua yang panjang bagi ayah maupun ibu serta kebijakan pro-keluarga—menghasilkan generasi yang lebih sehat, setara, dan sejahtera.

  • Australia:
    Mendorong work–life balance melalui cuti orang tua dan pengaturan kerja fleksibel. Pendekatan ini terbukti meningkatkan wellbeing karyawan dan secara konsisten menempatkan Australia di jajaran 10 besar negara dengan kualitas hidup terbaik di dunia.

  • Singapura:
    Menempatkan keluarga sebagai inti strategi pembangunan nasional, dengan investasi besar dalam program parenting, subsidi pendidikan, dan kampanye penguatan keluarga.


Solusi Empat Dimensi

Sesi ini juga menghadirkan kerangka komprehensif untuk menjawab fenomena fatherlessness:

  • Individu:
    Mengajak para ayah menyadari perannya, bertobat dari sikap abai, dan membangun kembali ikatan emosional serta spiritual dengan anak.

  • Komunitas:
    Menggerakkan komunitas, organisasi sosial, dan kelompok berbasis iman untuk menciptakan lingkungan yang mendukung keluarga dan para ayah.

  • Tempat Kerja:
    Mendorong kebijakan perusahaan yang ramah keluarga seperti cuti ayah, jam kerja fleksibel, dan program kesehatan mental.

  • Bangsa:
    Mengembangkan kebijakan publik yang menempatkan penguatan keluarga sebagai elemen inti pembangunan nasional, dengan belajar dari praktik terbaik negara-negara maju.


Refleksi untuk Indonesia

Indonesia menghadapi tantangan urbanisasi, adiksi digital, disrupsi teknologi, dan meningkatnya isu kesehatan mental. Namun, solusi yang paling mendasar sesungguhnya dimulai dari rumah.

Ketika para ayah kembali mengambil peran sebagai pemimpin keluarga—dengan menunjukkan kepedulian, waktu, kasih, disiplin, dan integritas—generasi muda Indonesia akan tumbuh lebih kuat, lebih sehat secara mental, dan lebih siap menjadi SDM unggul untuk pembangunan berkelanjutan bangsa.

Webinar ini bukan sekadar diskusi akademis—melainkan sebuah seruan aksi bagi seluruh pemimpin, profesional, dan warga negara untuk memperkuat keluarga, memulihkan peran ayah, dan mencegah masalah sosial melalui pilar keluarga yang sehat dan bersatu.