PITTSBURGH (KDKA) — Teknologi modern telah menghubungkan orang-orang di seluruh dunia, tetapi pada saat yang sama menjadi jalur bagi para predator untuk memanfaatkan anak-anak. Perangkat kita membuat hal ini semakin mudah dengan berbagai aplikasi pesan dan video baru.

Penyidik federal mengatakan, percakapan yang tampak tidak berbahaya bisa dengan cepat berubah menjadi berbahaya.

Kita sekarang lebih terhubung daripada sebelumnya. Dalam hitungan detik, Anda bisa berbicara, mengirim pesan, atau melakukan panggilan video dengan seseorang di mana pun di dunia. Namun, seperti yang sering kita lihat, teknologi modern juga memiliki sisi gelap.

“Media sosial dan aplikasi online telah menjadi alat utama bagi para pelaku untuk mengidentifikasi, melakukan grooming, dan mengeksploitasi anak secara seksual,”
kata FBI Supervisory Special Agent Timothy Wolford.

Menurut FBI, jika seorang anak membuat profil dengan sedikit atau tanpa pengaturan batasan, predator bisa menemukan mereka hampir seketika.

“Dalam waktu 15–20 menit, saya mungkin sudah menerima beberapa permintaan dari predator yang mencoba mendapatkan foto dan video tidak senonoh dari saya,”
kata Wolford.

Wolford juga menegaskan bahwa tidak masalah aplikasi apa yang digunakan anak Anda.

“Saya akan mengatakan bahwa ada bahaya bawaan di hampir semua aplikasi ini dan pada dasarnya di semua media sosial,”
kata Wolford.


Lebih Bahaya Sendirian Online daripada di Taman

Ia bahkan mengatakan, dibanding khawatir anak pergi ke taman sendirian, orang tua seharusnya lebih khawatir jika anak sendirian online. Itulah dunia di mana anak Anda sekarang paling membutuhkan pengawasan.

“Saya berpendapat bahwa anak yang sendirian di kamar dengan iPad atau iPhone berada pada risiko yang jauh lebih besar daripada anak yang bermain di taman dekat rumah,”
kata Wolford.

Wolford menyebut aplikasi yang memungkinkan anak mengunggah video, foto, dan melakukan livestream sebagai yang paling mengkhawatirkan. Meskipun Anda mungkin mengira anak Anda mengunggah sesuatu yang tidak berbahaya, ia mengatakan predator dapat dengan cepat memelintir dan menyalahgunakannya.

“Kami telah melihat kasus di mana foto itu disunting dan ditempelkan ke gambar pornografi, dan kemudian orang tersebut menggunakan gambar itu untuk memeras sang anak,”
jelas Wolford.


Anak di Bawah 10 Tahun Jadi Sasaran

Mantan Jaksa Amerika Serikat, David Hickton, yang kini bekerja di Pitt Cyber Institute, mengatakan dalam banyak kasus justru anak di bawah 10 tahun yang menjadi sasaran terbesar.

“Ada posisi kepercayaan yang menjadi bagian dari profil. Ada proses grooming terhadap anak melalui pendekatan yang tampak tidak berbahaya namun perlahan bergerak ke arah yang sangat berbahaya,”
kata Hickton.

Wolford menjelaskan, skenarionya bisa sangat sederhana: seorang anak bermain game online dengan orang-orang yang tidak mereka kenal, lalu salah satu pemain lain meminta berbicara di aplikasi lain.

“Itu mungkin tampak seperti permintaan yang tidak berbahaya karena mereka ingin membicarakan game atau apa pun yang mereka mainkan, tetapi kemudian percakapan mulai berubah menjadi seksual eksplisit,”
kata Wolford.


Modus Tren: Pura-pura Jadi Remaja Putri

FBI mengatakan tren besar saat ini adalah predator berpura-pura menjadi remaja putri, memancing remaja laki-laki agar mengirim foto atau video seksual eksplisit, kemudian mengancam akan menyebarkannya ke publik kecuali mereka membayar.

Karena itu, Wolford menekankan betapa pentingnya orang tua tahu aplikasi apa saja yang digunakan anak di semua perangkat mereka, dan selalu mengaktifkan parental control.

“Jika mereka melihat ada aplikasi yang muncul yang tidak pernah mereka izinkan, mereka harus tahu itu aplikasi apa, kenapa anak mereka menggunakannya, dan untuk apa,”
kata Wolford.

Selain parental control, kedua ahli ini mengatakan ada juga spyware yang bisa dipakai untuk memantau aktivitas online anak.

Namun, menurut Hickton, sering kali cukup dengan memperhatikan perubahan perilaku anak. Jika anak mulai menghindar, tertutup, atau terlalu rahasia soal apa yang mereka lakukan di internet atau di perangkat mereka, itu mungkin tanda bahwa ada sesuatu yang salah.

Ia mengatakan, jika memang ada masalah, jangan ragu menghubungi polisi.

“Jika Anda melihat sesuatu terkait penggunaan media sosial dan aplikasi ini, Anda harus bergerak secepat mungkin,”
kata Hickton.


AI Membuat Predator Makin Sulit Terlacak

Yang mungkin paling mengkhawatirkan—baik Hickton maupun Wolford mengatakan, dengan kemajuan kecerdasan buatan (AI) yang terus meningkat, akan semakin mudah bagi predator online untuk menyerang sekaligus tetap tersembunyi.

“Menurut saya, kita harus mempertajam cara kita dan bekerja sangat keras untuk menghadapinya. Seiring teknologi yang terus berkembang, tantangannya akan semakin besar,”
kata Hickton.

Mereka menegaskan, sebagai orang tua, Anda adalah garis pertahanan pertama. Karena itu penting membangun hubungan dengan anak sehingga mereka cukup nyaman untuk bercerita tentang apa saja—terutama ketika mereka sudah terjebak dalam situasi berbahaya di dunia online.

SUMBER: https://www.cbsnews.com/pittsburgh/news/fbi-predators-targeting-kids-social-media/