Bagaimana memiliki konflik yang justru membuat kita makin dekat.

POIN PENTING

  • Konflik dalam persahabatan, dan dalam hubungan secara umum, bukan sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk.

  • Investasi positif dalam persahabatan menjadi fondasi bagi konflik yang lebih sehat saat konflik muncul.

  • Konflik dengan teman membutuhkan negosiasi dan kompromi, yang pada akhirnya bisa meningkatkan keterampilan pemecahan masalah.


Konflik.

Saya masih kadang takut dengan konflik, karena ada bagian diri saya yang masih melihat konflik sebagai “pertarungan”. Tapi sejak menulis Platonic, saya mulai melihatnya dengan lebih bernuansa. Berikut beberapa hal yang saya pelajari dari sains tentang konflik:

Konflik dapat memberi kita keterampilan.
Bagi anak-anak, konflik dengan teman bisa sangat bermanfaat. Jika konflik dengan orang tua bersifat “dari atas ke bawah”, konflik dengan teman menuntut adanya negosiasi dan kompromi. Inilah yang menjelaskan mengapa, bagi mereka, konflik berkaitan dengan keterampilan pemecahan masalah yang lebih baik.

Konflik yang baik dimulai sebelum konflik itu terjadi.
Satu studi pada remaja menemukan bahwa dalam persahabatan yang berkualitas baik, konflik baru menjadi terkait dengan dampak negatif (seperti kenakalan atau menarik diri) ketika konflik terjadi sangat sering. Bagi mereka yang persahabatannya berkualitas rendah, konflik apa pun sudah berkaitan dengan dampak negatif. Studi ini menunjukkan bahwa kita sedang “mempersiapkan panggung” bagi konflik yang sehat setiap saat. Berinvestasi secara positif dalam persahabatan—dengan bersikap penuh kasih, dapat diandalkan, atau murah hati—memberikan fondasi bagi konflik yang lebih sehat ketika itu muncul.

Bukan konfliknya yang melukai persahabatan, tetapi cara kita berkonflik.
Konflik itu sendiri bukan hal yang buruk. Satu studi, misalnya, menemukan bahwa ketika terjadi pengkhianatan, menghadapi pelaku dengan cara terbuka dan tanpa menyalahkan justru memperdalam hubungan. Orang-orang yang pandai mengelola konflik (misalnya dengan mendengarkan, mengakui kesalahan, meredakan ketegangan, dan mengambil sudut pandang orang lain), menurut studi lain, cenderung lebih populer, dan tidak terlalu depresi maupun kesepian.


Saya juga mulai mempraktikkan beberapa kebiasaan konflik yang sehat:

1. Ajukan pertanyaan

Salah satu tanda konflik yang sehat adalah saling mengambil perspektif. Tindakan temanmu mungkin berarti satu hal bagi kamu, dan hal yang berbeda bagi dia. Konflik yang sehat adalah rekonsiliasi, dan melibatkan masing-masing pihak memegang sudut pandangnya bersamaan dengan sudut pandang pihak lain. Tanyakan pada temanmu,

“Apa perspektif kamu? Dari mana kamu waktu itu melihatnya?”

2. Rangkullah kerentanan

Sering kali kita menyerang ketika bagian diri kita yang rentan terpicu—bagian yang merasa tidak berharga, sendirian, atau penuh rasa malu. Kita mungkin ingin menyebut teman kita buruk, tidak bisa diterima, atau sengaja kejam, sebagai cara melarikan diri dari perasaan rentan itu dengan menyalahkan.
Sebaliknya, jika kita bisa mengakui kerentanan itu, konflik justru bisa mendekatkan, karena memungkinkan kita saling memahami dan membangun empati.

Lain kali saat kamu berkonflik, tanyakan pada diri sendiri:

“Bagian diri saya yang rentan mana yang terpukul oleh ini?”

Dan tanyakan juga apakah kamu bisa membagikan kerentanan itu, misalnya dengan mengatakan:

“Aku merasa terluka ketika kamu membuat keputusan untuk kita berdua, karena itu mengingatkanku pada [masukkan pengalaman] ketika aku merasa tidak berdaya.”

3. Rangkullah ambivalensi

Ambivalensi membuat kita mampu menampung beberapa kebenaran sekaligus: bahwa meskipun teman kita telah menyakiti kita, kita masih mencintai mereka dan mereka masih mencintai kita. Ketika kita merangkul ambivalensi, kita mengakui bahwa satu momen konflik tidak serta-merta mengguncang kasih yang sudah kita bangun; bahwa meskipun kita sedang merasa negatif, kita juga tetap bisa merasa positif terhadap teman kita.

Dalam praktik, contohnya seperti:

“Aku tersakiti oleh komentar itu, walaupun aku tahu kamu sayang sama aku dan tidak akan sengaja menyakitiku.”

Seperti yang dibagikan temanku, Kana:

“Hanya karena kita sedang berkonflik, bukan berarti kita tidak bisa bersikap baik satu sama lain.”


SUMBER: https://www.psychologytoday.com/intl/blog/platonic-love/202305/the-science-of-conflict