Kesedihan Iklim: Beban Emosional dari Perubahan Iklim

Jika dampak pemanasan global membuat Anda sulit tidur, atau memicu kecemasan dan kesedihan, bisa jadi Anda sedang bergumul dengan kecemasan iklim (climate anxiety) atau kesedihan iklim (climate grief). Berikut adalah gambaran tentang masalah yang terus berkembang ini dan apa yang bisa Anda lakukan agar tidak terus “tumbang” oleh berita-berita buruk.

Hutan yang terbakar, beruang kutub kelaparan, ikan-ikan yang tercemar. Semua ini begitu memilukan dan kini seolah menjadi bagian dari siklus berita harian. Bagi sebagian orang, pengingat terus-menerus akan kehancuran lingkungan ini membawa dampak psikologis.

“Saya merasa sangat bersalah dan putus asa terkait krisis iklim,” kata Konrad Juengling, aktivis LGBT dan penulis berusia 34 tahun dari Portland, Oregon. Ia mengatakan bahwa perubahan iklim adalah sesuatu yang hampir setiap hari ia pikirkan—mulai dari kemasan plastik di supermarket hingga gletser yang mencair dan naiknya permukaan laut. “Semakin banyak saya belajar tentang krisis iklim, semakin membuat depresi.”

Perasaan Juengling bukanlah hal yang unik. Orang-orang di seluruh dunia sedang berduka atas perubahan planet dan merasa depresi tentang pemanasan global—terutama para Milenial dan Gen Z.

“Semakin sering saya mendengar tentang perubahan iklim, semakin cemas saya. Rasanya seperti pertempuran yang tidak akan kita menangkan kecuali semua orang ikut terlibat,” kata Becky Derbyshire, blogger gaya hidup dan eco-blogger berusia 39 tahun dari Gloucestershire, Inggris.

“Bagi saya, ini seperti situasi Daud versus Goliat,” kata Rohan Chandrashekhar, 35 tahun, eksekutif pemasaran di sebuah perusahaan di India. “Ada rasa tidak berdaya dan frustrasi karena segala sesuatunya tidak bergerak secepat yang kita harapkan.”


Bagaimana Sains Membunyikan Alarm

Rasa takut dan cemas terkait pemanasan global ini bukan datang tiba-tiba.

Laporan Agustus 2021 dari Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) adalah seruan tindakan yang sangat mengkhawatirkan. Laporan terbaru ini—ditulis oleh lebih dari 200 ilmuwan iklim terkemuka dunia—menyatakan bahwa dalam 20 tahun ke depan, Bumi berada di jalur untuk mencapai atau melampaui pemanasan 1,5 derajat Celsius di atas tingkat pra-industri. Beberapa ahli menganggap titik ini sebagai “titik kritis” global.

Perubahan suhu itu sangat signifikan, menurut para pakar, karena akan menyebabkan kenaikan permukaan laut yang merusak. Pemanasan sebesar 2 derajat Celsius akan menghasilkan panas ekstrem yang mengancam pertanian dan membuat kejadian cuaca parah—seperti banjir, kekeringan, dan gelombang panas laut—menjadi lebih sering.

Para penulis laporan menegaskan bahwa satu-satunya peluang kita untuk mencegah tren pemanasan di atas 1,5 derajat Celsius adalah melalui tindakan transformasi yang radikal untuk mengurangi CO2 dan emisi gas rumah kaca lainnya.


Apa Itu Climate Grief?

Istilah ecological grief pertama kali digunakan dalam sebuah makalah tahun 2018 yang menggambarkannya sebagai respons atas hilangnya spesies, ekosistem, dan lanskap yang dicintai akibat perubahan iklim. Para penulis laporan tersebut—peneliti kesehatan Ashlee Cunsolo, PhD, dan Neville R. Ellis, peneliti di University of Australia—meneliti dampak emosional dari hilangnya lahan akibat perubahan iklim melalui pengalaman hidup masyarakat adat Inuit di Kanada dan para petani di wilayah Australian Wheatbelt.

Kini para psikolog menggunakan istilah climate grief untuk merujuk pada perasaan sedih, kehilangan, dan cemas sebagai respons terhadap kehancuran iklim. Seberapa umum climate grief ini? Sebuah jajak pendapat tahun 2019 oleh American Psychological Association mengungkap bahwa 68% orang dewasa di AS mengalami setidaknya sedikit kecemasan tentang perubahan iklim. Hampir setengah (47%) responden muda berusia 18 hingga 34 tahun mengatakan bahwa kecemasan mereka tentang iklim memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.

Jumlah terapis yang membekali diri untuk membantu klien dengan distress terkait iklim juga semakin meningkat.

Andrew Bryant, MSW, LICSW, seorang terapis berbasis di Seattle, merasa terdorong untuk mempelajari climate grief beberapa tahun lalu. Klien-klien datang ke kantornya dengan rasa duka dan cemas yang terkait dengan masalah ini—salah satunya mengalami bayangan-bayangan intrusif tentang “masa depan apokaliptik” bagi anaknya.

Untuk mengimbangi minimnya pelatihan di area ini, Bryant fokus mempelajari dampak emosional perubahan iklim dan mendorong diskusi tentang psikologi terkait iklim melalui sebuah situs web yang ia buat khusus untuk tujuan tersebut.


Apakah Climate Grief Berbeda dengan Eco-Anxiety?

Meski kedua istilah ini masih relatif baru, climate grief biasanya digunakan untuk menggambarkan kesedihan terkait kehilangan ekologis, sedangkan eco-anxiety merujuk pada rasa cemas terhadap kehilangan ekologis di masa depan.

Bryant menjelaskan bagaimana kedua konsep ini saling terkait. Dalam praktik klinisnya, ia melihat perasaan terkait perubahan iklim termanifestasi dalam dua kategori besar—duka (grief) dan ketakutan (fear).

“Saya memikirkan duka sebagai kehilangan atau kehilangan yang diantisipasi,” katanya, menjelaskan bahwa duka ini bisa muncul sebagai respons terhadap sesuatu yang sudah hilang ataupun sesuatu yang kita perkirakan akan hilang. Climate grief juga bisa diarahkan pada kehilangan orang lain di masa depan, muncul sebagai rasa sedih dan cemas karena generasi mendatang akan mewarisi planet yang terkuras.

Ketakutan, kata Bryant, adalah kategori besar lainnya. “Takut akan masa depan, takut akan keselamatan kita, takut akan orang lain dan orang-orang yang kita kasihi.” Dan rasa takut ini, jika tidak diatasi, bisa membuat kita “terjebak” dalam kondisi cemas. Semua perasaan ini dapat saling bertumpuk, katanya, dan orang bisa bergantian mengalami kecemasan dan kesedihan tentang krisis iklim.


Climate Grief pada Generasi Muda

Apakah Generasi Muda Lebih Rentan Mengalami Climate Grief?

Sebuah studi tahun 2021 mensurvei sepuluh ribu anak muda berusia 16–25 tahun di sepuluh negara dan menemukan bahwa 84% dari mereka setidaknya cukup khawatir tentang perubahan iklim, dan lebih dari setengahnya (59%) sangat atau sangat-sangat khawatir.

Tokoh publik muda, seperti anggota Kongres New York Alexandria Ocasio-Cortez dan aktor Miley Cyrus, telah mengungkap kekhawatiran mereka tentang etika memiliki anak di tengah perubahan iklim yang berkelanjutan—mungkin membuat orang lain mempertanyakan hal yang sama.

Survei menunjukkan bahwa Gen Z dan Milenial memang memasukkan kecemasan mereka tentang perubahan iklim sebagai salah satu pertimbangan dalam keputusan untuk memiliki anak. Dalam sebuah studi terhadap orang dewasa AS berusia 27 sampai 45 tahun, 97% responden mengatakan mereka sangat atau sangat-sangat khawatir tentang kesejahteraan anak mereka—baik yang sudah ada maupun yang mungkin akan lahir—di dunia yang terdampak perubahan iklim. Jumlah yang lebih kecil (60%) sangat atau sangat-sangat khawatir tentang “jejak karbon dari memiliki anak”.

Bryant mengatakan bahwa ia memperkirakan akan melihat jauh lebih banyak anak muda yang merasa cemas, marah, khawatir, dan putus asa terhadap iklim yang mereka warisi. Ia mengatakan bahwa kaum muda bereaksi terhadap penyangkalan yang mereka lihat pada generasi yang lebih tua, seraya menambahkan, “generasi muda menyadari bahwa mereka sedang diberi masa depan yang bukan hasil ciptaan mereka.”


Lima Tahap Climate Grief

Psikiater Elisabeth Kübler-Ross pertama kali menguraikan lima tahap duka pada akhir 1960-an ketika mempelajari bagaimana orang bereaksi terhadap kabar penyakit terminal. Ilmuwan iklim Steve Running, PhD, kemudian menggunakan model ini untuk menjelaskan lima tahap kemungkinan climate grief.

Berikut ini adalah cara climate grief mungkin termanifestasi (ingat bahwa, seperti temuan Kübler-Ross, tahap-tahap ini bisa muncul dalam urutan apa pun, bisa saling tumpang tindih, atau beberapa tidak muncul sama sekali pada sebagian orang):

Tahap 1: Penyangkalan (Denial)
Beberapa orang benar-benar menyangkal bahwa pemanasan global adalah masalah. Mereka tidak percaya bahwa iklim memanas, atau meragukan bahwa manusia adalah penyebab utamanya. Atau, mereka mungkin percaya pada sains tetapi menolak mengakui perlunya perubahan. Penyangkalan pada awalnya membantu orang menghindari rasa sakit akibat kerusakan iklim, tetapi pada akhirnya mendorong ketidakaktifan.

Tahap 2: Marah (Anger)
Mempelajari tentang perubahan iklim terkadang memunculkan rasa marah. Kemarahan ini bisa muncul pada gagasan bahwa mereka harus mengubah gaya hidup demi melindungi planet. Di lain waktu, kemarahan diarahkan pada ketidakaktifan pemerintah terhadap krisis iklim. Walaupun marah adalah emosi yang normal, terlalu banyak kemarahan dapat memperburuk kecemasan dan meningkatkan risiko penyakit jantung.

Tahap 3: Tawar-menawar (Bargaining)
Ketika berhadapan dengan data ilmiah yang suram tentang krisis iklim, sebagian orang mencari sisi baiknya. Mereka mungkin “bernegosiasi” tentang perubahan iklim dengan menyimpulkan bahwa cuaca yang lebih hangat tidaklah terlalu buruk, sambil mengabaikan dampak serius seperti kebakaran hutan yang ganas dan kejadian cuaca ekstrem. Mirip dengan dua tahap sebelumnya, mereka yang berada di tahap ini cenderung belum terdorong untuk mengambil tindakan.

Tahap 4: Depresi
Ketika duka atas iklim terasa terlalu berat, orang bisa jatuh pada rasa mati rasa dan depresi. Bryant mengatakan bahwa duka yang mendalam dapat membuat orang merasa kewalahan dan akhirnya menutup diri. Climate grief juga bisa membuat sebagian orang terjun begitu dalam ke aktivisme iklim sehingga akhirnya mereka kelelahan dan burnout.

Tahap 5: Penerimaan (Acceptance)
Ketika orang menerima tingkat keparahan krisis iklim dan siap mengeksplorasi solusi, mereka berada di tahap penerimaan. Dengan tenang menerima fakta ilmiah, mereka mampu tetap termotivasi dan fokus pada tindakan untuk melindungi planet. Bryant mengatakan bahwa ia berhasil membantu klien mencapai pola pikir di mana mereka dapat “merasakan duka mereka sekaligus mengambil tindakan yang bermakna dan berkelanjutan.”


Cara Mengatasi Climate Grief

Climate grief mencakup kesedihan dan ketakutan untuk semua makhluk hidup di Bumi, tumbuh-tumbuhan, dan ekosistem. Ketika duka yang begitu mendalam mencengkeram Anda, hal itu dapat membuat Anda merasa sangat sendirian. Berikut beberapa tips untuk mengatasi duka terhadap iklim.


#1. Rasakan Dukamu

Menurut Bryant, salah satu langkah pertama untuk mengatasi climate grief adalah mengizinkan diri merasakan emosi tersebut. Terimalah semua perasaan Anda—seperti sedih, khawatir, marah—tanpa menghakimi atau menekannya. Akui bahwa emosi yang Anda rasakan tentang pemanasan global itu nyata dan valid, dan seperti kata Bryant, merupakan “realitas menjadi manusia pada masa tertentu ini.”

Yvonne Cuaresma, 27 tahun, pendiri dan CEO Climate Journal Project, menemukan cara unik untuk memproses stres dan ketegangan yang ia rasakan terkait perubahan iklim. Ia mulai memenuhi halaman-halaman buku harian. Melalui Climate Journal Project, ia mendorong orang lain melakukan hal yang sama, menyediakan journal prompts bertema iklim dan menawarkan sesi live gratis di mana peserta dapat berbagi refleksi satu sama lain.

Meskipun terdengar klise, berbicara tentang perasaan Anda dapat membantu Anda merasa kurang kesepian. Bryant menyarankan untuk mencari orang yang aman untuk diajak bicara—entah teman, anggota keluarga, atau terapis.

Climate Psychiatry Alliance dan Climate Psychology Alliance North America telah menyusun direktori profesional kesehatan mental yang siap membantu klien dengan distress terkait iklim. Anda dapat menggunakan alat pencarian mereka untuk menemukan terapis yang peka terhadap isu iklim di dekat Anda.

Catatan: Jika Anda merasa ingin bunuh diri, mohon segera mencari bantuan. Anda dapat menghubungi US National Suicide Hotline 24/7 di 1-800-273-TALK (8255) atau mengunjungi tautan ini untuk daftar International Suicide Hotlines.


#2. Sadari Bahwa Anda Tidak Sendiri

Ada miliaran orang di planet ini (diperkirakan 7,7 miliar!) dan banyak di antaranya mengalami kekhawatiran yang sama. Faktanya, begitu banyak orang mengalami kecemasan atas krisis iklim sehingga kini ada disiplin baru dalam psikologi yang khusus meneliti dampak kesehatan mental dari perubahan iklim.

Jika dulu pemanasan global berada di “belakang kepala” orang, sekarang urgensinya ada di radar kebanyakan orang. Menurut jajak pendapat besar oleh United Nations Development Programme (UNDP), yang mensurvei lebih dari setengah populasi dunia dan mencakup 50 negara, 64% orang merasa bahwa perubahan iklim merupakan keadaan darurat global.

Jika Anda merasa terisolasi, Bryant menyarankan untuk terhubung dengan kelompok dukungan iklim lokal. Di situs webnya, Climate & Mind, Anda akan menemukan bagian sumber daya dengan tautan ke lokakarya dan kelompok diskusi. Anda juga dapat mencari di Facebook kelompok iklim lokal atau mengunjungi Good Grief Network untuk melihat apakah ada lokakarya di dekat Anda.


#3. Sadari Bahwa Menyelamatkan Iklim Bukan Tugas Pribadi Anda

Beban dunia bukan milik Anda seorang dan tidak ada satu pun orang yang sepenuhnya bertanggung jawab atas pemanasan global. Bryant mengatakan ia menjumpai klien yang secara bawah sadar percaya bahwa tugas merekalah untuk “menyelesaikan” krisis iklim. Dan ketika mereka tidak tahu bagaimana melakukannya, mereka merasa seperti gagal.

Ingatkan diri sendiri bahwa beberapa hal berada di luar kendali Anda dan beberapa kehilangan ekologis memang tak terhindarkan. Menangani perubahan iklim adalah proyek raksasa, dan Anda tidak bisa mengatasinya sendirian. “Kita benar-benar membutuhkan semua orang,” kata Bryant, “dengan segala jenis keterampilan dan pola pikir.”

Ingatlah bahwa ada banyak orang di seluruh dunia yang terlibat dalam aktivisme iklim—itu sesuatu yang patut disyukuri! Di antara rekan-rekan seperjuangan ini ada ribuan ilmuwan iklim ahli. Per 2021, para ilmuwan ini telah menerbitkan lebih dari 100.000 makalah ilmiah yang mendokumentasikan dampak perubahan iklim.

Bagaimana? Itu baru yang disebut kerja tim.


#4. Temukan Cara Anda Sendiri untuk Bertindak

Setelah Anda merasakan dan memproses duka, Bryant mengatakan bahwa mengambil tindakan bisa menjadi jalan maju yang bermakna dan positif. Ini tentang melihat ke dalam dan bertanya pada diri sendiri: kekuatan, kapasitas, dan sumber daya apa yang bisa saya bawa ke meja aktivisme iklim?

Bagi Bryant, panggilannya adalah pada kesehatan mental terkait iklim. Bagi Nivi Achanta, 25 tahun dari Seattle, panggilannya adalah meluncurkan Soapbox Project.

Pada awalnya, Achanta tidak yakin di mana posisinya sebagai aktivis iklim. “Saya merasa sangat tidak berdaya,” jelasnya, “karena saya menyadari bahwa saya adalah bagian dari masalah, tetapi saya tidak tahu bagaimana menjadi bagian dari solusi.”

Jadi, ia memulai sebuah newsletter iklim. Di dalamnya ada rencana aksi mingguan untuk membantu melawan perubahan iklim. Email-email “berukuran kecil” ini, katanya, membantu anak-anak muda yang sibuk seperti dirinya “mengambil tindakan bermakna pada hal-hal yang penting bagi mereka, meski hanya punya beberapa menit setiap minggu.”

Achanta menjelaskan bagaimana mengerjakan Soapbox membantunya menyalurkan kemarahan dan dukanya tentang disrupsi iklim menjadi aksi. “Saya bukan lagi penonton yang hanya menyaksikan dunia terbakar—saya ikut berpartisipasi aktif mengambil langkah dalam hidup saya dan memotivasi orang lain untuk melakukan hal yang sama, dengan cara yang membawa sukacita dan kedekatan.”

Jika Anda merasa terpanggil untuk bertindak, carilah kelompok aktivis di wilayah Anda. Tindakan individu mungkin terasa kecil, tetapi sangat penting untuk menyebarkan harapan, memberi insentif kepada pemerintah untuk bertindak, dan menggerakkan perubahan global.


Bisakah Climate Grief Membawa Kita ke Masa Depan yang Lebih Baik?

Mungkin ada alasan untuk percaya bahwa climate grief—meski menyakitkan—adalah tanda harapan bagi planet ini. Duka adalah bentuk kepedulian terhadap sesuatu yang telah kita kehilangan, dan merasakan duka sebagai respons terhadap disrupsi iklim berarti kita tidak berada dalam penyangkalan atau apatis. Ini menandakan pengakuan bahwa sumber daya Bumi semakin menipis dan kita peduli.

Bryant mengatakan bahwa meskipun ia berharap tidak ada alasan untuk berduka, menghadapi dan merasakan duka kita tentang iklim—dan membicarakannya dengan orang lain—dapat membantu kita merespons dengan “cara yang penuh kasih dan kepedulian terhadap lingkungan.”

Ia mengatakan bahwa mengidentifikasi diri dengan gambaran yang lebih luas di luar diri kita—spesies lain, ekosistem, dan generasi mendatang yang akan menderita—mungkin menjadi jalur kuat untuk memperlambat perubahan iklim.

SUMBER: https://www.psycom.net/anxiety/coping-climate-grief-anxiety