Saat kita merayakan Hari Ayah di Indonesia (12 November 2025), saya kembali diingatkan pada pesan utama di balik buku parenting best-seller “Tanpa Ayah, Tanpa Arah — Fatherless, Aimless Life: Fathering the Loneliest Gen.” Buku ini mengupas bahwa fatherlessness bukan sekadar luka pribadi, tetapi fenomena sosial yang kian meluas dengan konsekuensi psikologis dan sosial yang sangat dalam.

Secara global, riset menunjukkan bahwa anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah yang terlibat memiliki risiko 2–3 kali lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, penyalahgunaan zat, serta penurunan prestasi akademik (Harvard Child Development Study, 2023). Di Indonesia, diperkirakan 1 dari 3 anak mengalami salah satu bentuk ketidakhadiran ayah — baik secara fisik, emosional, maupun psikologis.

Dalam buku yang saya tulis bersama Agung Setiyo Wibowo ini, kami menjelaskan beberapa faktor yang berkontribusi pada krisis yang sunyi ini:

  1. Kesalahpahaman budaya tentang peran ayah — ayah hanya dipandang sebagai pencari nafkah, bukan pengasuh dan pendamping emosional.

  2. Jam kerja yang panjang dan buruknya keseimbangan kerja–keluarga, terutama di kota-kota besar.

  3. Waktu commuting yang ekstrem, misalnya 3–4 jam setiap hari bagi mereka yang tinggal di Bekasi dan bekerja di Jakarta.

  4. Kurangnya edukasi dan kesadaran tentang keterampilan pengasuhan (fathering skills) dan kecerdasan emosional.

  5. Ambisi pribadi dan mengejar materi yang sering ditempatkan di atas keluarga, kesehatan, dan iman.

  6. Kebijakan tempat kerja yang tidak ramah keluarga, sehingga keterlibatan ayah menjadi semakin sulit.

Dampak fatherlessness meluas jauh melampaui ranah keluarga. Fenomena ini berkorelasi dengan meningkatnya gangguan mental, kenakalan remaja, hingga ketidakstabilan relasi. Ketika ayah menjauh, anak bukan hanya kehilangan figur teladan, tetapi juga kehilangan arah — secara emosional, moral, dan sosial.

Sebaliknya, berbagai riset secara konsisten menegaskan bahwa ayah yang aktif dan penuh kasih berkontribusi pada kesehatan mental yang lebih baik, ketahanan (resilience) yang lebih tinggi, serta empati yang lebih kuat pada anak (APA, 2024). Keluarga yang sehat, dengan ayah dan ibu yang hadir, menjadi garis pertahanan pertama masyarakat terhadap kemunduran sosial — mulai dari kekerasan, kecanduan, hingga kesepian dan kelelahan emosional (burnout).

Ketika Indonesia memimpikan Indonesia Emas 2045, kita juga harus berani berinvestasi dalam Fatherhood — di mana ayah bukan sekadar pencari nafkah, tetapi bridge-builder bagi kemampuan kognitif, soft skill, harga diri, kasih, identitas, dan kesejahteraan anak.

Ayah yang lebih kuat berarti keluarga yang lebih kuat.
Keluarga yang lebih kuat berarti bangsa yang lebih kuat.

hashtag#hariayah hashtag#fatherlessness hashtag#kesehatanmental